APAKAH PROFESI TERAPIS RUQYAH DIANGGAP SESUATU YANG TABU…?

Bagaimana menurut anda…?Profesi disini artinya pekerjaan atau aktivitas sehari-hari seperti guru, dosen , buruh, psikolog, penulis dan lain sebagainya.Orang yang sehari-harinya beraktivitas sebagai peruqyah dan pembekam maka itu termasuk Profesi, baik dia hidup dari pekerjaan itu atau bukan. Tapi orang sudah mengenalnya dengan profesi itu. Suka atau tidak suka.

Saya seorang pedagang kue kaki lima, usaha saya sering terbengkalai demi membantu saudara kita yang membutuhkan terapi ruqyah.Terkadang baru saja mau berangkat dagang mendadak dijemput orang untuk mengobati keluarganya yang dalam kondisi kerasukan.

Dan orang-orang lebih mengenal saya sebagai peruqyah,bukan pedagang kue.Kemudian orang menyebut saya bekerja sebagai peruqyah.

Akhir – akhir ini ada yang mempersoalkan ruqyah sebagai profesi dan mempertentangkannya dengan dakwah di zaman Nabi. Mereka bilang bahwa Nabi dan sahabat tidak pernah menjadi peruqyah.

Untuk menjawab orang yang berpikiran seperti Itu, coba tanyakan padanya :
“Apakah di zaman Nabi dan sahabat ada profesi guru sekolah, dosen, ekonom, politikus, psikolog, penulis buku, polisi, manager dan sebagainya ?”
“Lalu mengapa menjadi praktisi ruqyah dipersoalkan ??”.
“Apakah karena dalam praktik ruqyah ada upah sehingga dipersoalkan ??”
“Kalau Itu yang menjadi masalah sehingga ruqyah tidak boleh dijadikan Profesi, maka jadi guru agama dan guru tahfizh juga tidak boleh menerima upah dong ??
Karna Nabi dan sahabat tidak pernah mengambil upah ketika mengajar agama dan Al Qur’an.

Kalau letak masalahnya pada upah Ruqyah,sementara ulama sudah final dalam pembolehannya. Jadi, tidak ada masalah dengan profesi ruqyah. Ibnu Abidin mengatakan bahwa profesi ruqyah tidak berbeda dengan profesi dokter.

Semoga Bermanfaat. Aamiin


Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *